Selasa, 03 Agustus 2010

Survey Tambang: Dari Udara Mengintip Perut Bumi

TANPA banyak gembar-gembor, di Sulawesi dewasa ini tengah berlangsung kegiatan cukup penting bagi dunia survei dan pertambangan: pemetaan geoid. Proyek ini dilaksanakan berdasar kerjasama antara Badan Koordinasi Survei Pemetaan Nasional (Bakosurtanal) dengan Denmark Technology University (DTU). Rencananya, tak hanya Sulawesi yang diukur. Tahun 2010, giliran Kalimantan. Setelah itu, Irian Jaya, Sumatera, dan Jawa (2011 dan 2012), serta Bali, NTT, NTB, Maluku (2013).

Geoid merupakan garis khayal yang menghubungkan titik-titik dengan gravitasi sama. Secara praktis, geoid dianggap berimpit dengan garis rata-rata permukaan laut yang tenang, tidak ada ombak. Di masa lalu, pengukuran geoid di Indonesia dilakukan lewat survei terestrial. Namun cara itu lambat dan sulit, karena acap kali menjumpai daerah yang sulit dijangkau.

Maka, kini survei dilakukan dari udara. Surveyor memasang alat pengukur gravitasi (gravimeter) di pesawat udara. Datanya direkam oleh komputer yang diletakkan di dalam pesawat. Survei udara sangat menghemat waktu ketimbang bila pengukurannya dilakukan lewat survei terestrial. Selain lebih murah, pengukuran lewat udara juga membuat surveyor bisa menjangkau daerah-daerah sulit, seperti jurang, rawa, dan hutan.

Geoid hanya merupakan salah satu hasil dari pengukuran gaya berat. Pengukuran gaya berat bisa menghasilkan data lainnya: kemungkinan adanya potensi minyak, gas, atau mineral di bawah permukaan bumi. Selama ini, survei gaya berat sudah dilakukan berbagai perusahaan minyak di Indonesia, namun hanya dalam cakupan sempit, di wilayah kerjanya saja. Data yang mereka peroleh disimpan, untuk keperluan sendiri.

Survei gaya berat untuk daerah cukup luas, kini sudah menjadi hal umum. Berbagai pemerintahan melakukan ini untuk mengundang pemodal agar mau masuk mengembangkan potensi tambang yang ada.

Sebagai contoh adalah apa yang dilakukan pemerintah Nigeria. Akhir November 2009 ini, Badan Survei Geologi Nigeria (NGSA) mengumumkan telah selesai menyelesaikan proyek survei geologi tahap ke-dua. Nilai proyeknya US$ 12 juta, dikerjakan oleh perusahaan survei Fugro. Ini merupakan kelanjutan survei tahap pertama, yang selesai pada Maret 2008. Survei tahap pertama itu memindai 24 negara bagian Nigeria, dengan panjang lintasan terbang 826.000 Kilometer. Survei itu menemukan berbagai mineral logam dan pospat.

Para pejabat kaget melihat hasil temuan itu. Mereka berharap, investor tak ragu lagi masuk wilayah Nigeria, karena sudah ada data yang teruji. Kini, pemerintah merasa percaya diri untuk berhubungan dengan investor. Kini, sudah 800 ijin eksplorasi dikeluarkan pemerintah. Seorang pejabat tinggi Badan Survei Geologi Nasional mengatakan, adanya peta membuat pemodal jadi percaya bahwa mereka tidak tengah ber-hadapan dengan lahan kosong.

Total, Fugro telah terbang dengan jarak sepanjang sejuta kilometer dengan pesawat yang dilengkapi airborne magnetik dan radiometrik, di atas cekungan Chad, delta Niger, Sokoto, dan Adamawa. ''Masuknya investor memudahkan tugas kami dalam menciptakan lapangan kerja, serta menumbuhkan perekonomian,'' kata si pejabat tinggi.

Pemakaian radar dari udara untuk melacak kandungan mineral di bawah permukaan bumi, juga dilakukan Departemen Pertambangan dan Mineral Kanada. Salah satu lembaga di bawahnya, Dinas Survei Geologi Ontario, Januari lalu mulai menjalankan proyek pemetaan radar udara.
Salah satu yang disurvei adalah kawasan yang dikenal sebagai Mine Centre. Selama sebulan, Dinas Geologi Ontario mengadakan survei airborne, dengan biaya US$ 385.000. Luas arealnya 500 kilometer persegi. Setiap pekan, perusahaan survei terbang sepan-jang 3.000 kilometer.

Survei itu untuk mengukur medan magnetis, gravitasi, dan konduktivitas listrik batuan. Perusahaan yang kebagian pekerjaan adalah Aeroquest Surveys. Sebelumnya, pada 1980-an daerah Mine Centre juga pernah disurvei. Tapi dengan teknologi kala itu, hasil-nya kurang memuaskan. Padahal, sesuai namanya, Mine Centre seharusnya memiliki kandungan mineral logam cukup banyak.

Selama ini, daerah itu memiliki pusat tambang tembaga. Dengan adanya survei airborne, diharapkan kandungan logam yang lain juga ditemukan. Sementara ini, survei udara memang menghasilkan temuan menarik. Ada daerah yang diduga punya kandungan emas, baja, dan titanium. Sudah ada perusahaan swasta yang tertarik melakukan eksplorasi.

Badan Mineral Jepang menggunakan survei airborne magnetik sejak 1969 sebagai bagian program eksplorasinya. Pada 1975, metode lebih canggih digunakan. Hasil penerapan metode ini adalah penemuan Hishikari, yang kini dikenal sebagai tambang emas utama di Jepang.
Pada 1996, Badan Mineral Jepang menerapkan airborne magnetik dan survei radiometrik beresolusi tinggi. Metode ini mula-mula diterapkan di wilayah Hokusatsu. Di sini, juga berhasil ditemukan deposit emas. Badan Mineral Jepang makin yakin, metode ini memang layak digunakan untuk memprediksi keberadaan suatu mineral.

Badan Mineral Jepang juga menggunakan metode ini di luar negeri. Pada 1968, lembaga ini mengirim peralatannya ke Zaire untuk melakukan survei magnetik airborne. Mereka berhasil menemukan berbagai jenis mineral berharga. Tahun ini, juga dilakukan survei di Bicol, kawasan di Filipina yang diduga punya kandungan logam. Lumayan, bisa didapat deposit emas dan tembaga dalam jumlah cukup besar.

Hingga 1995, sumber utama eksplorasi tambang di Irlandia adalah survei reconnaissance pada 1979-1980, yang dilakukan Hunting Geology and Geophysics Ltd. Survei waktu itu berlangsung dari udara, dengan lebar jalur 1-2 km, panjang terbang 42.290 km. Tinggi terbang sekitar 500 meter. Namun, hasilnya dinilai kurang presisi.

Pada 1995-2002, dilakukan survei ulang yang lebih rapat, untuk mendapatkan hasil lebih teliti. Sebanyak 58 blok disusur, dengan ketinggian terbang 60-120 meter. Berbagai jenis data dikumpulkan: medan magnetik, ketinggian, gravitasi. Total lintasan yang diterbangi panjangnya 131.670 kilometer, dengan luas mencapai 26.267 kilometer persegi. Citra yang dihasilkan dari survei airborne itu lumayan sukses. Ditemukan lokasi baru yang diduga menyimpan potensi mineral.

Bumi sering disederhanakan sebagai berbentuk elips, dengan gravitasi yang sama di seluruh permukaannya. Kenyataannya, massa di perut bumi mempunyai kerapatan berbeda: ada rawa, lautan, tanah, atau daerah penuh mineral. Gravitasi di atas lautan akan lebih rendah ketimbang yang di atas daerah penuh mineral. Daerah-daerah cekungan, yang di bawahnya mengandung minyak, mempunyai gravitasi lebih rendah ketimbang daerah padat. Tiap-tiap mineral karena sifat atomiknya, memberikan reaksi yang spesifik terhadap pancaran gelombang elektromagnetik. Berbagai perbedaan itu yang dicari para penguber minyak, mineral, dan bahan tambang lain.

Indonesia sangat membutuhkan data medan magnetik dan gaya berat, untuk memudahkan eksplorasi, serta lebih menarik investor. Sayangnya, banyak daerah yang masih kosong. Contohnya Papua, pulau yang banyak disebut sebagai gudangnya mineral di Indonesia. Survei gravitasi yang dilakukan Bakosurtanal bekerjasama dengan Denmark Technology University, diperkirakan tak hanya menghasilkan garis geoid. Anomali gaya berat yang didapat bisa untuk menduga ada tidaknya potensi mineral di bawah permukaan bumi Sulawesi.
Survei dan survei memang harus terus dilakukan, agar kita semakin mengenali potensi tambang di negeri kita.

Sumber: Majalah Tambang

Tidak ada komentar:

Posting Komentar